in

Dating : CECEP (Cerita-Cerita Pendek) #1 — Surat untuk Delia

h2>Dating : CECEP (Cerita-Cerita Pendek) #1 — Surat untuk Delia

31_Joey

Di sebuah sekolah menengah atas swasta dengan lingkungan yang sangat asri, bersih, terawat. Ada sebuah kehidupan sosial yang sangat wajar dan umum untuk dialami kalangan anak-anak sekolah. Para pegiat ekstrakurikuler olahraga yang mudah mendapat atensi dan popularitas. Para perempuan yang memiliki wajah cantik, tubuh proporsional dan pintar berdandan menjadi primadona sekaligus mengintimidasi sesama kaumnya yang insecure. Anak-anak berprestasi yang pandai bersosial menjadi kesayangan sekolah. sementara anak-anak pintar yang cenderung tertutup memilih membuat kultus khusus pop culture bersama lingkaran pertemanannya yang kecil.

Namun dibalik itu semua, ada seorang perempuan bernama Delia, ia dikagumi banyak orang karena beberapa faktor. Visualnya yang anggun? tentu, tapi itu bukan hanya itu. Ia juga fleksibel masuk ke segala kalangan, yaa walaupun tidak selalu cocok dengan “geng cantik” sih, tapi ia kerap terlihat pandai bermain basket, piano, bahkan permainan kartu bakugan. Sekarang sedang berlangsung istirahat, Delia biasanya hanya menghabiskan waktu di perpustakaan untuk jam sakral ini, entah untuk membaca koran sambil memutar mp3 player kesayangannya atau ikut bergabung pada permainan kartu rutin bersama para kutu buku di balik rak buku-buku filsafat.

Delia tidak pernah menginginkan popularitas, ia merasa bersosial sama siapapun itu sebagai bentuk kebutuhan manusia. Namun siapa sangka, popularitas yang justru menginginkan Delia. Banyak dari kaum lelaki yang menyatakan kekagumannya pada Delia. Beberapa sudah mencoba berbagai cara, walaupun tidak semua juga berhasil. Menyatakan dengan cara langsung di hadapan publik? He..he..he.. 10 orang sudah mencoba hal ini tapi hasilnya selalu sama, Delia teralihkan dengan masalah lain. Bukan karena Delia yang sengaja berpura-pura, dia hanya teralihkan karena mempunyai banyak teman dengan isu dan masalah tertentu. Yaa mohon maaf, di kasus ini friends come first. Mari kita lihat percobaan berikutnya, mungkin bagaimana jika kita menyatakannya melalui media sosial? Well, kalau kasus ini kalian sepertinya lebih baik menerima kenyataan saja. Delia cukup old-fashioned untuk teknologi, ia merasa teknologi maju terlalu cepat dan memilih menjalaninya dengan lebih perlahan agar lebih mudah beradaptasi, namun tetapia tidak gaptek. Alhasil, ia tetap memilih smartphone biasa yang cukup untuk kamera dan komunikasi dengan aplikasi messenger seadanya. Walaupun memiliki laptop yang cukup mutakhir. Jadi, selamat tinggal para pengagum Delia sekaligus pegiat media sosial, karena Delia tidak mempunyai akun media sosial sama sekali.

So, what’s the last option? Para pengagum mulai melangsungkan startegi terakhir, yaitu dengan memberi surat-surat di meja sekolahnya, atau menitip melalui teman-teman Delia. Alhasil, Delia cukup terhibur dengan kehadiran surat-surat tersebut, minggu pertama hanya lima surat yang ia dapat, empat minggu berikutnya karena Delia tidak membalas satu surat pun, ia mendapatkan sekitar 15 surat per hari. Merasa hal ini cukup mengundang perhatian, ia membuah sebuah peringatan di mejanya berpupa kertas bertuliskan “Kolom Surat Penuh, silakan datang lain waktu”. Delia merasa ia harus mulai membaca dan menentukan sikap untuk merespons surat-surat tersebut satu persatu. Karena terdapat 199 surat, ia menjadikan membaca 15 surat sehari sebagai rutinitasnya tiap ia pulang sekolah. 21 surat pertama tidak begitu menyenangkan, beberapa terdengar seperti surat permintaan tebusan, bahkan ada terselip surat ujaran kebencian yang nadanya seperti familiar dengan anggota “geng cantik”. Well, tetap kita tidak boleh berprasangka buruk.

Lalu, 42 surat berikutnya cukup menarik walaupun berisi kata-kata sajak yang klise nan gombal, dan pola semuanya mempunyai kemiripan. Di mulai dengan majas hiperbola seperti “Ketika ku pandang kau, aku seperti melihat harta karun paling berharga di dunia” lalu ditutup dengan pantun receh seperti “ke toko material beli paku, bolehkah kau menerima cintaku?”. 35 surat berikutnya cukup membuat Delia luluh, karena berisi bagaimana seseorang yang mengaguminya memperhatikan secara detil tingkah lakunya atau menceritakan peran Delia dalam hidupnya, sedikit terdengar seperti penguntit, tapi Delia tidak menghiraukannya. Ya sebagai wanita ia suka orang yang memperhatikannya secara detil. Tibalah di surat ke 97, kali ini suratnya ditulis dengan tulisan yang sangat indah, dengan susunan kata yang unik. Terasa segala curahan perasaan tertuang di surat itu. Surat itu berbunyi:

“Delia, satu nama, satu wujud manusia yang tak bisa kudeskripsikan dengan berbagai kata-kata. Tak pernah diperkirakan, aku akan berakhir mengagumi sosok seperti Delia. Aku selalu berpikir akan dipertemukan dengan orang yang ku suka di tempat selain sekolah, bahkan pernah berpikiran mungkin saja aku akan bertumu orang itu di dimensi lain. Namun, waktu berkata lain setelah aku melihatmu di ladang keilmuan, tempat dimana jendela dunia berkumpul. Delia, bagiku kamu adalah sosok paling anggun yang pernah ku jumpa. Tawamu yang ceria, matamu yang bulat. Semakin ku pandang, semakin larut pula aku ke dalamnya.”

Delia cukup tertarik dengan surat ini, surat ini hanya berisi pujian tidak ada ungkapan ajakan berpacaran atau menikah seperti surat-surat sebelumnya. Surat itu pun ditulis secara anonim. Ia tertarik dengan siapa yang menulis surat tersebut, dan menunda surat-surat berikutnya. Esoknya, Delia berusaha mencari siapa penulis surat itu, mulai dari bertanya ke teman sekelasnya, tau teman-temain lain yang biasanya dititipkan surat-surat tersebut. Seminggu Delia mencoba, ia masih belum mendapatkan informasi tersebut. Ketika pada jam istirahat, Delia melihat secarik kertas catatan rumus fisika dengan nama Intan, tulisannya sekilas mirip dengan surat yang dikagumi Delia. Delia pun menyadari di kelasnya tidak ada murid yang bernama Intan. Kertas tersebut pun juga ada diatas meja temannya yang bernama Jaka. Secara spontan Delia bertanya, “Jak, catatan di meja lo punya Intan kelas berapa?”. “Itu punya Intan kelas 2 IPA C, jangan diambil gue belum kelar salin” jawab Jaka, sambil menjelaskan fungsi kertas catatan yang bukan miliknya itu.

Setelah melihat jam istirahat yang masih tersisa waktu 10 menit lagi, Delia pun segera menghampiri kelas 2 IPA C. Disana ia disambut beberapa murid yang baru saja selesai memakan bekalnya, lalu bertanya kepada mereka “Ini kelasnya Intan? Intannya ada gak?”. “Bener, Intan anak kelas kita, tapi dia gak di kelas, coba cek di perpus, dia istirahat rajin kesitu biasanya.” jawab murid-murid tersebut. Tanpa berpikir panjang, Delia bergegas menuju perpustakaan. Tak disangka, perpustakaan sedang cukup ramai hari ini, wajar ada pembagian buku pinjaman sekolah bagi murid kelas 1. Delia mencoba mencari dengan mengelilingi perpustakaan, lalu pandangan ia tertuju pada seorang perempuan berkacamata memakai sweater biru tosca, dengan earphone bewarna pastel rose, sedang membaca buku sambil merangkim isi buku tersebut. Delia pun berjalan ke arah perempuan tersebut. Perempuan itu pun menyadari Delia mendekatinya, hingga tanpa sadar ia terlihat grogi dan gelisah oleh sosok primadona itu. Delia tidak berniat menyapa ia hanya ingin menyelediki sedikit, ketika ia mengintip buku catatan perempuannya, ia pun semakin yakin tulisan surat favoritnya sama persis seperti tulisan perempuan itu. Ia pun segera keluar ruangan perpustakaan, dan berpikir sejenak, masih terlintas dipikirannya bahwa perempuan itu belum tentu bernama Intan. Lalu, tanpa sengaja ia menguping pembicaraan pustakawan dengan perempaun tersebut.

“Jadinya dipinjam aja nih? biasanya cuma dibaca seharian aja” tanya pustakawan.

“Ternyata masih banyak yang perlu dicatat, sekalian pinjam aja deh, buat tiga hari aja kok” sahut perempuan itu

“Oke, atas nama Intan Camelia yaa, batas pengembalian seminggu yaa jangan lupa nanti kena denda.” ujar pustakawan tersebut.

Dibalik pintu, Delia tersenyum setelah mendengarnya, seakan menemukan orang yang telah lama ia rindukan. Sepulang sekolah, masih ada satu hal yang ia pikirkan. Mengapa Intan menulis surat tersebut, apakah ia hanya sekadar membantu orang lain yang bermaksud mengirimkan surat tersebut, atau memang Intanlah yang bermaksud untuk mengirim surat tersebut.

Paginya saat ia berangkat sekolah, tanpa sengaja Delia bertemu Intan di bus. Keduanya saling berhadapan namun saling terlihat malu. Delia pun berusaha menyapanya terlebih dahulu. “Hai Delia”, “Hai Intan” spontan keduanya menyapa secara bersamaan. Keduanya pun saling tertawa. Mereka pun mulai berkenalan pada hari itu juga.

Hari demi hari, Delia semakin akrab dengan Intan, keduanya kerap terlihat menghabiskan waktu bersama di sekolah, terutama di ruang perpustakaan atau kantin. Walaupun Intan cenderung tertutup, namun perlahan ia semakin terbuka dengan kehadiran teman barunya itu. Suatu hari, Delia membawa Intan ke rumahnya. Di kamar, Intan melihat setumpuk surat-surat untuk Delia yang belum ia baca.

“Ini surat-surat masih banyak yang belum kamu baca?” tanya Intan.

“Iya, masih ada banyak sekitar 100, males sih, toh surat lo yang gue paling suka” tanya Delia

“Eh, kamu tau…, gak jadi deh he..he.. ku baca aja yaa surat-surat yang masih belum kebuka” respons Intan sambil terkaget lalu mengalihkan pembicaraan.

“Iyaa, gapapa baca aja” balas Delia sambil menyembunyikan ekspresi sesalnya karena keceplosan.

Intan pun mulai membacakan surat-surat itu. Masih banyak isi surat-surat itu yang mengandung kata-kata romantis. Tapi, tidak terdengar cringe oleh Delia. Ia hanya terlihat tersenyum sepanjang Intan membacakan surat-surat itu. Entah karena Delia mulai menyukai gombalan klise, atau karena cara Intan membaca surat tersebut. Ekspresinya penuh dengan makna yang kita tak pernah tahu apa maksudnya.

Hari semakin larut, matahari semakin terbenam, Intan pun bersiap untuk meninggalkan rumah Delia. Delia ekspresinya sedikit berubah, seperti akan ditinggal seseorang kekasih.

“Ku pulang dulu yaa, udah malam, takut dicariin orang rumah” kata Intan, sambil menuju pintu kamar Delia untuk keluar.

Tiba-tiba Delia menahan Intan untuk pergi, memeluknya dan mengecup pipinya. Lalu berkata “Rumah lo gak jauh dari sini, ga ada salahnya telat 3–5 menit, gue seneng lo ada disini”. Intan yang terkejut pun merespons dengan gagap “Del, kamu…”

“Gue tau kok, lo kaget, gue tau kok lo yang nulis surat yang manis itu dengan tulus tanpa maksud bantuin cowok lain yang punya rasa sama gue. Gue tau tan” ujar Delia memotong pembicaraan.

Intan pun terdiam, membisu dengan menatap hangat Delia, tanpa sadar ia masih dipeluknya. Delia pun melanjutkan “Gue juga bingung kok, tapi gue semakin sadar juga, kalau emang gue suka sama lo lebih dari sekedar teman. Gue…”. Intan memotong pembicaraan, dengan mengecup bibir Delia. Setelahnya, Intan tersenyum sejenak dan berkata “ I know, terima kasih yaa, udah jujur sama perasaanmu, padahal aku sendiri masih belum berani, aku ga pernah berpikiran kamu bakal punya perasaan ke aku, apalagi banyak cowok yang suka sama kamu, tapi waktu menunjukan hal lain rupanya. hehe”

Intan pun melepaskan pelukannya lalu meninggalkan kamar dan menuju pintu utama rumah, sambil ditemani Delia dengan wajahnya yang masih tersipu merah. “Ku pulang dulu, kamu baik-baik di rumah, jangan lupa makan, see you cewek cantik!” pamit Intan dengan wajah berseri sebelum pulang. Delia pun tersenyum malu sambil masuk kembali ke rumahnya.

Setelah hari itu, Delia dan Intan semakin mesra, kencan favorit mereka, adalah membaca surat-surat Delia, tak jarang pula mereka saling mengutuk pengirim surat yang menuliskan ujaran kebencian. Well, that’s love, always dynamic, never flat. Tapi yang penting tujuan akhirnya adalah kebahagiaan untuk kedua orang tersebut, bukan?

What do you think?

Laisser un commentaire

Votre adresse de messagerie ne sera pas publiée. Les champs obligatoires sont indiqués avec *

Dating : Wild sweet orange tea

Dating : 5 Traits Men Want in a Partner That We Never Say Out Loud